Target Produksi WK Zona Rokan PHR 2025, 167,03 MBOPD. Terus Berinovasi dan Bekerja Keras Tunjang Produksi

JAKARTA, FAJARSUMSEL.COM – Sebagai penyumbang produksi migas sebanyak 27 persen di Indonesia, PHR memiliki WK Zona Rokan terus berinovasi dan bekerja guna mencapai target produksi migas 2025 mencapai 167,03 MBOP.

Hal itu dipaparkan GM Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko ketika menghadiri IES IPA Convex 2025 di ICE BSD City, Kamis, 22 Mei 2024.

“PHR berupaya memanaging produksi migas, agar mampu menjaga sustainable ability menunjukkan kebutuhan energi nasional. Apalagi, 27 persen produksi minyak PHR menunjang produksi nasional,” sebut Andre.

Bebernya, semua fungsi di lingkungan PHR dilibatkan, guna menunjang produksi migas dihasilkan guna mencapai produksi. “Baik, drilling, engineering, IT, development dan planning serta lainnya. Berkolaborasi, guna mengejar target produksi telah ditetapkan PHR setiap tahunnya,” jelasnya.

Apalagi, bebernya, PHR memiliki amanah dari pemerintah guna mewujudkan ketahanan energi nasional di Indonesia. “Kita harus terus bekerja secara optimal, guna mewujudkan hal itu. Agar target produksi migas, bisa tercapai setiap tahunnya,” tandasnya.

Transisi Chevron ke PHR, Terbaik di Indonesia. Mampu Pertahankan Produksi Migas, Zero Decline

Lewat transisi pengelolaan Blok Rokan dari Chevron ke PHR, mampu mempertahankan produksi migas, dan mempertahankan turunnya laju produksi 11 persen pertahunnya menjadi zero.

Hal itu diungkapkan Operating Head Subsurface Development dan Planning Pertamina Hulu Rokan (OHSDP PHR), Mochamad Taufan ketika dibincangi awak media di ISE IPA Convex 2025, ICE BSD City, Kamis, 22 Mei 2025.

“Ada beberapa poin telah kita sampaikan pada paparan tadi, salah satunya terkait transisi pengelolaan Blok Rokan dari Chevron ke PHR merupakan terbaik di Indonesia. Mampu menahan laju penurunan produksi migas, hingga zero dan mendukung ketahanan energi nasional,” aku Taufan, sapaan akrabnya.

Menurutnya, kalau tidak melakukan effort tersebut produksi migas di Indonesia khususnya di PHR jauh menurun dari kondisi sekarang ini. “Program-program akan terus kita lanjutkan ke depan dan kembangkan lagi, guna mempertahan sustainable ability produksi migas di PHR,” terangnya.

Ungkapnya, hal itu tidak terlepas butuh dukungan pemerintah dan juga perbaikan sarana dan prasarana penunjang proses produksi migas di lingkungan PHR. “Baik cara produksi konvensional, ataupun non konvensional akan dilakukan terus menerus secara massive,” tukasnya.

Tunjangan Produksi Migas, Tahun Ini Target 558 Sumur Dibor PHR

Melalui Drilling dan Well Intervention, PHR tahun lalu mampu membor 536 sumur migas guna menunjang produksinya. Sementara tahun ini, target naik menjadi 558 sumur migas guna diproduksi.

Operation Head Drilling dan Well Intervention PHR, M Andi Solihin mengatakan, kalau jajarannya berkomitmen selalu mendukung program diamanahkan pemerintah dalam mencari sumber-sumber minta potensial, guna menunjang produksi PHR juga ketahanan energi nasional.

“Semuanya harus bekerja sama, seluruh fungsi dalam mempercepat dan penunjang produksi migas PHR. Kami terus menyediakan peralatan handal, secara aman selamat dan efisien,” aku Andi.

Sebutnya, kebutuhan peralatan penunjang di sesuaikan peruntukannya buat WK Zona Rokan PHR. “Kita terus berupaya mengembangkan serta menyediakan peralatan dan orangnya, gunakan masyarakat sekitar dalam proses produksi migas di WK Zona Rokan PHR,” tukasnya.

Tambahnya, tahun lalu, 536 sumur migas di WK Zona Rokan berhasil dilakukan pemboran. Tahun ini, meningkat menjadi 558 sumur migas.

“Pencarian sumber potensial migas, kita tetap mengedepkan keselamatan wajib, selamat dan handal serta efisien. Tiganya harus sejalan, dilakukan di Blok Rokan merupakan WK Zona Rokan. Mencari potensi migas di sumur-sumur migas,” akunya.

Fokus Penyederhanaan Proses Kerja Produksi Migas PHR, Mampu Efek Emisi Carbon hingga 1,5 Juta Pertahun

Melihat program dari fungsi lain, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Project and Technical Engineering PHR. Salah satu, melakukan penyederhanaan proses kerja proses produksi migas di lingkungan PHR.

Ungkap, Operation Head Project and Technical Enginering PHR, Erwin Sianturi kepada awak media. “Kita fokus Penyederhanaan proses produksi migas, salah satunya pembebasan lahan di lokasi produksi,” terangnya.

 

Salah satunya, melakukan efisiensi lahan pemboran sumur lewat pemboran sumur lahannya berdekatan. “Jelas mengurangi biaya produksi, menggunakan metode tersebut menurunkan biaya hingga 50 persen,” tukasnya.

Di PHR, diamanahkan mencari potensi migas guna mendukung produksi nasional dan menjaga ketahanan dan swasey energi. Dalam pencarian potensi migas, ungkapnya memperhatikan lingkungan lewat cara-cara lebih green. “Memanfaatkan energi, tidak beras dari fosil. Seperti kita punya matahari, kita telah membangun PTLS. Mereduksi, emisi hampir 25 ribu ton pertahun. Ada program-program meremajakan pembangkit kita, bekerja sama PLN. Pengurangan emisi, hingga menjadi 1,5 juta ton pertahun,” terangnya.

Apalagi, saat ini efek emisi carbon menjadi pembicaraan di IPA Convex 2025. “Artinya, PHR punya sumbagsi besar menurunkan efek carbon tersebut,” jelasnya.

Teknologi AI, Memudahkan Produksi Migas. Lebih Cepat, Aman, dan Handal

Peranan digitalisasi merupakan keniscayaan, menjadi partner strategis dalam operasional produksi migas supaya berjalan lebih baik dan optimal.

Kata, Triatmojo Rowawanto, VP IT Regional I PHR, data itu dalam tanda petik minyak baru berharga, kalau tidak diapa-apakan sayang. Operasi ini, menghasilkan data besar.

“Kita melihat data ini, menjadi informasi berguna mengambil keputusan. Melalui AI, bagaimana menggunakan data tadi sehingga menghasilkan solusi lebih baik, aman dan akurat,” ucapnya.

Salah satunya dalam pengawasan keselamatan kerja, lewat ICCTV menggunakan AI. Menjadi warning atau peringatan bahaya, jika terjadi pelanggaran kerja. “Diagram dari pompa di sumur migas, perlu dianalisis menggunakan AI akan lebih mudah. Jika sumurnya, mau stop bisa diambil langkah lebih cepat penangganannya serta lebih efesien menunjang proses produksi migas di PHR,” tukasnya.

Sebenarnya, diceritakan sejak 2008 telah mulai menggunakan AI. Tetapi, baru digunakan secara massive, beberapa tahun belakangan ini semakin pesat kemajuan teknologi dan digitalisasi di dunia migas. “Pengembangan AI migas, harus bekerja sama. Melibatkan sektor industri, dunia pendidikan, juga pemerintah. Mudah-mudahan produksi migas, ke depannya bisa lebih maksimal menunjang kebutuhan energi nasional,” tutupnya. (rin)