MURA, FAJARSUMSEL.COM – Siang itu matahari bersinar terik di Desa Sukakarya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas. Namun bagi para ibu di dapur produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, terik matahari bukan lagi sekadar panas yang menyengat kulit.
Kini, matahari adalah sumber penghidupan.
Di sebuah rumah sederhana, suara mesin pengaduk adonan berdengung pelan. Aroma kue kering yang baru dipanggang memenuhi ruangan. Tangan-tangan cekatan para ibu mengemas hasil produksi, sembari sesekali berbagi tawa.

Di tengah kesibukan itu, Suhartini (45), Ketua KWT Melati, tersenyum mengingat perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
“Dulu kami terbebani tagihan, kini kami memanen harapan,” ujarnya lirih namun penuh keyakinan.
Kalimat sederhana itu merangkum perubahan besar yang dialami desa kecil ini.
Ketika Listrik Menjadi Kekhawatiran
KWT Melati beranggotakan 30 perempuan desa yang bertekad membantu ekonomi keluarga lewat usaha kue kering. Setiap bulan mereka mampu meraup omzet hingga Rp8 juta.
Namun jalan menuju capaian itu tidak selalu mulus.
Dulu, produksi mereka kerap terhenti karena listrik di desa sering padam. Pesanan pelanggan menumpuk, sementara adonan sudah terlanjur dibuat. Tenggat waktu pengiriman semakin dekat, dan kepanikan pun datang.
“Kami sering waswas apakah usaha ini bisa bertahan. Kalau listrik mati, satu-satunya andalan kami genset solar,” kenang Suhartini.
Masalahnya, biaya operasional melonjak. Tagihan listrik dan solar untuk genset bisa menghabiskan sekitar Rp2 juta per bulan—angka yang cukup besar bagi usaha rumahan di desa.
Usaha kecil yang dibangun dengan semangat gotong royong itu nyaris goyah karena biaya energi.
Matahari Datang Membawa Perubahan
Harapan baru datang ketika Pertamina EP Pendopo Field—bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4—melihat kegigihan ibu-ibu desa ini.

Pada akhir 2024, mereka memfasilitasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp lengkap dengan baterai 5 kWh di Desa Sukakarya.
Panel-panel surya itu terpasang rapi, menghadap langit desa yang cerah.
Energi matahari kini menghidupkan mesin pengaduk, oven, hingga lampu-lampu di rumah produksi KWT Melati.
Agar fasilitas ini bertahan lama, seorang warga desa bernama Sardiono bahkan dikirim mengikuti pelatihan sertifikasi pemeliharaan PLTS. Ia kini menjadi penjaga sistem energi baru di desa mereka.
Perubahan terasa cepat.
Tak ada lagi kepanikan saat listrik padam. Tak ada lagi asap genset yang memenuhi udara. Dan yang paling penting, biaya operasional yang dulu mencekik kini hilang.
Terang di Dapur, Terang di Rumah Warga
Dampak PLTS tidak berhenti di dapur produksi kue.
Saat pemadaman listrik bergilir terjadi pada malam hari, sebagian rumah warga tetap memiliki penerangan. Cahaya lampu tenaga surya menerangi meja belajar sederhana tempat anak-anak desa mengerjakan tugas sekolah.
Bagi warga Sukakarya, listrik bukan lagi sekadar fasilitas. Ia telah menjadi simbol perubahan.
KWT Melati pun mengalami transformasi.
Mereka bukan hanya pembuat kue. Kini mereka juga menjadi penggerak edukasi energi di desa. Dalam setiap pertemuan warga, mereka mulai membicarakan pentingnya hemat listrik, manfaat panel surya, hingga cara menggunakan energi secara bijak.
Energi Bersih untuk Desa
Manfaat lain yang tak kalah penting adalah lingkungan yang lebih sehat.
Pembangkit listrik tenaga surya di Desa Sukakarya diperkirakan mampu mengurangi emisi hingga sekitar 8 ton karbon dioksida setiap tahun. Jika dulu suara genset dan asap solar menjadi pemandangan biasa, kini energi matahari bekerja dalam senyap—tanpa polusi.
Perubahan itu membuat Desa Sukakarya mulai dikenal sebagai desa yang inovatif di Kabupaten Musi Rawas.
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan bahwa teknologi hanyalah alat. Kekuatan sesungguhnya berasal dari semangat warga desa.
“PLTS ini memang alatnya, tetapi motor penggeraknya adalah daya juang ibu-ibu KWT Melati. Energi matahari ini menerangi jalan mereka untuk mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” katanya.
Hal senada disampaikan Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip. Ia menilai keberhasilan ini lahir dari perpaduan teknologi tepat guna dan semangat gotong royong masyarakat.
Memanen Energi, Memanen Masa Depan
Kini, setiap kali matahari terbit di Desa Sukakarya, ia membawa lebih dari sekadar cahaya.
Ia membawa listrik untuk usaha kecil, penerangan bagi anak-anak yang belajar, dan harapan bagi keluarga-keluarga di desa itu.
Dari halaman rumah sederhana tempat ibu-ibu KWT Melati bekerja, perubahan itu bermula.
Dan dari sana pula, mereka membuktikan bahwa energi terbarukan bukan sekadar teknologi—melainkan jalan menuju masa depan yang lebih mandiri. (rin)







