PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM — Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika tawa anak-anak menggema di halaman Taman Penitipan Anak (TPA) Azizah, Kelurahan Muara Dua Barat, Kecamatan Prabumulih Timur, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Suara mereka riang seolah menjadi musik pengiring bagi serangkaian aktivitas tengah berlangsung penuh warna, penuh makna.
Bukan hari biasa di TPA Azizah. Ada berbeda kali ini. Puluhan anak berbaris rapi sambil memegang balon dan kertas warna-warni, menyambut kedatangan tim dari PT Pertamina EP (PEP)Prabumulih Field. Hari itu, mereka tak hanya membawa kotak-kotak berisi alat permainan edukatif, tapi juga membawa semangat baru dalam mengasuh dan mendidik anak-anak usia dini lewat program ‘Rumah Tumbuh’ singkatan dari Rumah Pengasuhan Berbasis Keluarga Terintegrasi dan Holistik.

Di bawah naungan program ini, PEP Prabumulih Field menyerahkan sejumlah alat permainan edukatif (APE) seperti puzzle, congklak, balok kayu, hingga alat sensorik sederhana bisa merangsang kemampuan motorik anak-anak. Bagi sebagian orang dewasa, benda-benda itu mungkin terlihat sepele. Tapi bagi anak-anak di usia emas, permainan adalah dunia sesungguhnya tempat mereka belajar mengenal warna, bentuk, emosi, dan interaksi sosial.
“Anak-anak belajar paling baik ketika mereka bermain,” ujar Tri Handayani SPsi MSi Psikolog CHT, psikolog anak hari itu menjadi narasumber pelatihan stimulasi tumbuh kembang. Dengan gaya hangat dan interaktif, ia mengajak para pengasuh dan orang tua mempraktikkan permainan sederhana ternyata bisa menjadi sarana pendidikan efektif.
Di salah satu sudut ruangan, seorang ibu terlihat tersenyum haru saat melihat anaknya berhasil menyusun puzzle bergambar hewan. “Biasanya di rumah dia cepat bosan. Tapi kalau main seperti ini, dia fokus dan senang,” katanya sambil menepuk lembut bahu anaknya.
Di balik keberadaan TPA Azizah, ada kisah pengabdian para pengasuh setiap hari menjadi ‘orang tua kedua’ bagi anak-anak. Kepala Yayasan Azizah diwakili Kepala Sekolah, Siska, bercerita bahwa sebagian besar anak di TPA itu berasal dari keluarga pekerja, terutama ibu-ibu harus membantu ekonomi keluarga.
“Anak-anak di sini kami asuh penuh kasih sayang agar mereka tetap tumbuh sehat dan ceria meskipun orang tuanya sibuk bekerja. Kami berterima kasih sekali pada Pertamina tidak hanya memberi bantuan, tapi juga memberi pendampingan dan ilmu baru bagi kami,” tutur Siska, sambil memperlihatkan rapor tumbuh kembang anak diberikan kepada para orang tua.
Rapor itu bukan sekadar kertas berisi angka dan catatan. Ia adalah bukti kecil bahwa setiap anak di tempat ini diperhatikan perkembangannya dari berat badan, kemampuan berbicara, hingga kepekaan sosialnya.
Salah satu orang tua murid, Dara Veranika, mengaku kini lebih percaya diri dalam mengasuh anaknya berkat pelatihan yang diadakan Pertamina.
“Program ini membuka mata kami bahwa bermain itu penting. Kami jadi tahu cara menstimulasi anak di rumah, bagaimana memantau tumbuh kembangnya, dan paling penting, kami jadi lebih sabar menghadapi anak-anak,” ungkapnya dengan senyum lega.
Dara juga merasa terbantu karena anaknya kini bisa belajar dan bermain dengan nyaman di lingkungan aman. “Kami bisa bekerja dengan tenang, karena tahu anak-anak diasuh penuh kasih,” tambahnya.
Bagi PEP Prabumulih Field, program Rumah Tumbuh bukan sekadar kegiatan sosial. Ia merupakan bagian dari strategi besar perusahaan dalam memperkuat ketahanan keluarga dan pembangunan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasi. Program ini juga sejalan dengan program quick wins Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Taman Asuh Sayang Anak atau Tamasya.
“Melalui Rumah Tumbuh, kami ingin memperkuat kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah menciptakan lingkungan sosial yang tangguh,” ujar Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement and Development (CID) Regional 1.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tapi juga berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan program. Itulah makna sebenarnya dari social license to operate,” tambahnya.
Hari mulai beranjak siang ketika kegiatan berakhir. Anak-anak berhamburan keluar kelas, memeluk boneka baru mereka sambil tertawa. Para orang tua tampak menenteng rapor tumbuh kembang, sementara para pengasuh saling bertukar pengalaman semangat baru.
Di tengah keriuhan kecil itu, tampak secercah harapan: bahwa masa depan dimulai dari tempat-tempat sederhana seperti ini taman kecil, tawa anak-anak, dan kepedulian tulus dari banyak pihak.
Karena di balik setiap senyum anak tumbuh bahagia, ada kerja sama tumbuh lebih besar antara keluarga, sekolah, dan perusahaan peduli. Dan di Prabumulih, Rumah Tumbuh dari Pertamina menjadi bukti nyata bahwa investasi terbaik bukan hanya di sumur minyak, tapi juga di hati dan masa depan anak-anak bangsa. (rin)







