PALEMBANG, FAJARSUMSEL.COM – Di tengah riuh rendah pengunjung Festival Rempah Sumatera Selatan 2025, aroma hangat jahe dan kopi menyeruak dari salah satu stan sederhana bertuliskan “Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)”. Di balik meja kayu kecil itu, beberapa perempuan tampak sibuk menyajikan cangkir-cangkir kopi jahe kepada para tamu.
Senyum mereka ramah, tangan mereka cekatan — dan siapa sangka, dari tangan-tangan itulah lahir inovasi kopi jahe PALI, minuman tradisional yang kini menjadi sorotan di ajang bergengsi tingkat provinsi.

“Kami ingin membuktikan bahwa rempah dari dapur desa pun bisa punya nilai jual tinggi,” ujar Feby Happy Monica, Ketua Pokja III TP PKK PALI, sambil menuangkan kopi ke gelas kecil. “Rasanya khas, wangi jahenya lembut, dan pengunjung banyak yang kembali untuk membeli lagi,” akunya.
Kopi Jahe dari Sentuhan Hati Perempuan
Ide membuat kopi jahe berawal dari Ketua TP PKK Kabupaten PALI, Hj Dwi Septaria SE MM terinspirasi dari tradisi masyarakat desa kerap merebus jahe untuk menghangatkan tubuh. Ia melihat peluang besar untuk menjadikan minuman itu lebih modern dan bernilai ekonomi.
“Kami tidak ingin rempah hanya berhenti di dapur. Kami ingin rempah menjadi simbol ekonomi baru bagi masyarakat PALI,” ungkap Dwi saat ditemui di sela festival.

Dengan dukungan TP PKK, kelompok wanita dan UMKM lokal mulai berinovasi. Mereka belajar memilih jahe terbaik, mengeringkannya dengan teknik alami, lalu memadukannya dengan biji kopi lokal. Hasilnya: aroma yang menggoda, rasa yang hangat, dan cerita yang autentik.
Bagi para pengunjung, kopi jahe PALI bukan sekadar minuman — ia adalah wujud dari kerja keras dan cinta terhadap tanah sendiri.
Dari Lahan Desa Menuju Pengakuan Provinsi
Selain kopi jahe, stan Kabupaten PALI juga dipenuhi deretan hasil bumi berwarna cerah: kunyit, kencur, jambu kristal, nanas, terong ungu, hingga alpukat. Semua produk tersebut bukan hasil impor, melainkan buah tangan petani lokal PALI yang kini telah mendapatkan sertifikat keamanan pangan dari OKKPD Dinas Ketahanan Pangan Sumsel.

“Kami bawa hasil kebun sendiri, bukan hanya untuk dipamerkan tapi juga untuk menunjukkan bahwa PALI bisa mandiri,” kata Sumiati, salah satu pelaku UMKM asal Kecamatan Abab. “Dulu kami menjual hasil panen seadanya di pasar, sekarang sudah dikemas dan diakui kualitasnya.”
Salah satu produk yang tak pernah absen mencuri perhatian adalah ikan sagarurung, kuliner khas PALI yang diolah dengan bumbu rempah pilihan dan cara masak tradisional. Selama festival berlangsung, hampir setiap jam stoknya habis diborong pengunjung.
“Kami masak dengan cara lama, dibakar perlahan pakai bara tempurung kelapa. Inilah rasa yang tidak bisa dibeli di tempat lain,” ujar Yunita, warga Talang Ubi yang sudah turun-temurun membuat ikan sagarurung.
Festival yang Mengubah Cara Pandang
Bagi masyarakat PALI, Festival Rempah bukan hanya sekadar ajang pameran. Ini adalah panggung penghargaan untuk kerja keras mereka, terutama kaum perempuan yang selama ini menghidupkan dapur, kebun, dan pasar tradisional.
“Banyak yang dulu malu berdagang, sekarang bangga karena produknya dipajang di tingkat provinsi,” tutur Feby dengan mata berbinar. “Kami ingin terus mendorong perempuan agar berani berinovasi, karena dari mereka lahir ide-ide yang luar biasa.”
Pemerintah Kabupaten PALI sendiri melihat festival ini sebagai momentum penting untuk memperluas pasar dan memperkuat branding daerah sebagai pusat rempah dan produk lokal unggulan di Sumatera Selatan. Dukungan terus diberikan melalui pelatihan, sertifikasi produk, dan fasilitasi promosi UMKM.
Rempah yang Menyatukan
Di penghujung hari, aroma kopi jahe masih tercium kuat di udara. Di sudut stan, sekelompok pengunjung terlihat menyeruput minuman hangat sambil berbincang ringan tentang cita rasa uniknya.
Bagi Feby dan rekan-rekannya, itulah momen yang paling berharga — ketika hasil tangan perempuan desa diapresiasi dengan tulus oleh orang banyak.
“Kami bukan sekadar menjual produk, kami membawa cerita. Cerita tentang kerja keras, tentang rasa syukur, dan tentang cinta kami pada PALI,” ucap Feby pelan.
Festival Rempah Sumsel 2025 bukan hanya memperkenalkan kekayaan rempah Nusantara, tapi juga memperlihatkan satu hal penting: bahwa dari desa kecil di PALI, semangat besar untuk mengangkat martabat produk lokal sedang tumbuh — hangat, wangi, dan penuh rasa, seperti secangkir kopi jahe buatan tangan perempuan PALI. (rin/Adv)







