PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM – Di tengah hiruk-pikuk Kota Prabumulih yang dikenal sebagai salah satu urat nadi energi di Sumatera Selatan, sebuah pertemuan penting berlangsung tanpa gegap gempita. Namun, maknanya jauh melampaui ruang rapat tempat para pemangku kepentingan berkumpul.
Di kantor PT Pertamina EP Zona 4, jajaran manajemen perusahaan energi itu menerima kunjungan Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis. Pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penegasan komitmen bersama menjaga stabilitas energi nasional dari hulu.

Bagi banyak orang, energi mungkin hanya sebatas listrik yang menyala atau bahan bakar yang menggerakkan kendaraan. Namun di balik itu, terdapat proses panjang dan kompleks yang dimulai dari perut bumi—tempat para pekerja migas berjibaku dengan risiko dan tantangan.
General Manager PEP Zona 4, Djudjuwanto, memahami betul bahwa keberhasilan operasi migas bukan hanya soal teknologi dan sumber daya manusia. Ada faktor lain yang tak kalah penting: stabilitas dan keamanan.
“Kolaborasi dengan TNI, khususnya Kodam II/Sriwijaya, menjadi fondasi penting dalam menjaga kelancaran operasi kami,” ungkapnya.

Di wilayah operasi yang tersebar dan kerap berdekatan dengan pemukiman maupun kawasan rawan, kehadiran aparat keamanan menjadi penopang utama. Pengamanan objek vital nasional (obvitnas) bukan hanya soal menjaga aset, tetapi juga memastikan bahwa produksi energi tetap berjalan tanpa gangguan.
Sementara itu, bagi Pangdam II/Sriwijaya, menjaga stabilitas di wilayah operasi migas bukan sekadar tugas institusional, melainkan bagian dari pengabdian kepada bangsa.
“Energi adalah denyut nadi negara. Ketika energi stabil, masyarakat tenang, pembangunan berjalan, dan negara kuat,” ujar Mayjen TNI Ujang Darwis dengan nada tegas.
Kalimat itu menggambarkan bagaimana energi dan keamanan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa keamanan, produksi bisa terganggu. Tanpa energi, kehidupan modern akan lumpuh.

Pertemuan ini juga menjadi simbol bahwa kolaborasi lintas sektor bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dunia energi yang semakin dinamis membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk institusi pertahanan.
Di ruang yang sama, tampak jajaran manajemen PEP Zona 4 berdiskusi hangat dengan para petinggi TNI. Tidak ada sekat formal yang kaku—yang ada adalah kesamaan tujuan: menjaga keberlanjutan energi demi kesejahteraan rakyat.
Prabumulih, yang selama ini dikenal sebagai kota penghasil minyak dan gas, kembali menegaskan perannya. Dari kota ini, upaya menjaga ketahanan energi nasional terus diperkuat—bukan hanya melalui produksi, tetapi juga melalui sinergi.
Pada akhirnya, kerja sama ini bukan hanya tentang institusi besar. Ini adalah tentang bagaimana negara hadir, memastikan bahwa setiap tetes energi yang dihasilkan benar-benar sampai kepada masyarakat.
Dan di balik semua itu, ada satu pesan yang mengalir kuat: menjaga energi berarti menjaga masa depan Indonesia. (ril)







