Energi Tak Pernah Pudar, Semangat Lansia di KWT Bougenville Sulap Lahan Kosong Jadi Cuan

PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM – Pagi belum sepenuhnya terbangun di Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih.

Langit masih berwarna kelabu pucat ketika langkah-langkah pelan mulai terdengar dari gang-gang kecil permukiman warga. Satu per satu perempuan lanjut usia berjalan menuju sebidang lahan di sudut kampung. Sebagian mengenakan caping lusuh. Sebagian lagi membawa ember kecil berisi bibit tanaman.

Di tangan mereka tergenggam cangkul, gunting rumput, dan selang air.

Tak ada wajah lelah.

Yang terlihat justru ketekunan yang tenang.

Udara pagi masih menyisakan embun ketika mereka mulai bekerja. Ada yang mencabuti rumput liar di sela tanaman sawi. Ada yang memeriksa batang markisa yang merambat pada pagar bambu. Ada pula yang sibuk menyiram deretan tanaman herbal di sisi kebun.

Dari Kekhawatiran Menjadi Kehidupan

Di usia yang tak lagi muda, perempuan-perempuan itu tetap datang setiap pagi.

Bukan karena kewajiban.

Tetapi karena mereka percaya, kebun kecil itu telah mengubah hidup mereka.

Lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi tersebut kini dikenal warga sebagai Kebun Bougenville. Tempat tumbuhnya sayur-mayur, tanaman herbal, sekaligus harapan baru bagi masyarakat Patih Galung.

Tak banyak orang tahu, beberapa tahun lalu kawasan itu hanyalah tanah kosong penuh semak belukar.

Ilalang tumbuh tinggi menutupi sebagian besar area. Sampah berserakan di beberapa sudut. Ketika sore menjelang malam, tempat itu sering membuat warga khawatir.

Anak-anak muda kerap berkumpul di sana hingga larut malam.

Bagi sebagian warga, lahan kosong itu perlahan berubah menjadi sumber keresahan.

Dan dari keresahan itulah semuanya bermula.

Sulap Lahan Kosong Jadi Cuan

Rini Setia Budi masih mengingat jelas bagaimana rasa cemas itu tumbuh setiap hari di dalam dirinya.

Sebagai seorang ibu, perempuan berusia 51 tahun tersebut tak ingin lingkungannya terus dibiarkan tanpa arah.

Hampir setiap hari ia melewati lahan kosong itu. Hampir setiap hari pula ia melihat tempat tersebut makin terbengkalai.

“Kalau dibiarkan terus, nanti anak-anak kehilangan lingkungan yang baik,” ujarnya suatu pagi.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Rini, keresahan seorang ibu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

Ia sadar, mengeluh tidak akan mengubah keadaan.

Maka sekitar tahun 2020, ia mulai melakukan sesuatu yang tampak kecil, tetapi kemudian membawa perubahan besar.

Rini mendatangi rumah tetangganya satu per satu.

Ia mengetuk pintu para ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya. Mengajak mereka membersihkan lahan kosong dan mencoba menanam sayuran.

Ajakan itu awalnya terdengar biasa saja.

Namun tidak semua langsung percaya.

Sebagian merasa ragu karena mereka bukan petani. Sebagian lagi merasa usia mereka sudah tidak cukup kuat untuk bekerja di kebun.

“Apa kita masih sanggup mencangkul?,” ujarnya bergumam.

“Apa tanahnya bisa ditanami?,” tanyanya.

“Apa hasilnya nanti benar-benar ada?,” harapnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul.

Tetapi Rini tidak menyerah.

Ia percaya perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

“Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi?” katanya waktu itu.

Perlahan, ajakan itu mulai mendapat sambutan.

Beberapa ibu rumah tangga bersedia ikut mencoba. Sebagian lansia pun mulai tertarik bergabung.

Mereka kemudian membentuk sebuah kelompok kecil yang diberi nama Kelompok Wanita Tani Bougenville.

Nama itu dipilih bukan tanpa makna.

Bougenville adalah bunga yang mampu tumbuh di cuaca panas dan tanah keras. Ia tetap berbunga meski sering dianggap tanaman biasa.

Seperti itulah perempuan-perempuan di kelompok tersebut.

Sederhana, tetapi kuat.

Hari-hari pertama mereka di lahan kosong itu bukanlah sesuatu yang mudah.

Semak belukar tumbuh hampir setinggi badan orang dewasa. Tanah keras dan kering membuat cangkul sulit menembus permukaan.

Mereka bekerja dengan peralatan seadanya.

Tidak ada alat modern.

Tidak ada modal besar.

Yang ada hanyalah kemauan untuk berubah.

Pagi demi pagi mereka datang membersihkan lahan.

Mencabuti ilalang.

Mengangkut sampah.

Membuat bedengan sederhana.

Peluh bercucuran hampir setiap hari.

Tangan-tangan yang sebelumnya lebih sering memegang peralatan dapur kini mulai terbiasa menggenggam cangkul dan selang air.

Kadang tubuh mereka terasa pegal berhari-hari.

Kadang mereka pulang dengan pakaian penuh lumpur.

Tetapi tak seorang pun menyerah.

“Kami capek, tapi senang,” ujar salah seorang anggota kelompok sambil tertawa kecil.

Ada kebahagiaan yang tumbuh bersama kerja keras itu.

Sebab perlahan mereka mulai melihat perubahan.

Menanam Sayur, Memanen Harga Diri

Tunas-tunas pertama mulai muncul dari tanah yang sebelumnya dianggap mati.

Kangkung tumbuh hijau di salah satu sudut kebun.

Sawi mulai memenuhi bedengan sederhana yang mereka buat sendiri.

Bibit markisa perlahan merambat pada pagar bambu.

Di sisi lain, berbagai tanaman herbal mulai menghijau: jahe, kunyit, kencur, laos, cassia, hingga lidah buaya.

Lahan kosong itu akhirnya mulai menghadirkan kehidupan.

Bagi warga Patih Galung, perubahan tersebut bukan hanya soal pertanian.

Kebun Bougenville perlahan menjadi simbol perubahan sosial.

Anak-anak kini memiliki lingkungan yang lebih sehat untuk bermain. Warga mulai berkumpul di kebun untuk bercengkerama. Interaksi sosial yang dulu mulai memudar perlahan tumbuh kembali.

Yang sebelumnya hanyalah tanah kosong kini berubah menjadi ruang hidup masyarakat.

Namun perjalanan perempuan-perempuan Bougenville ternyata baru dimulai.

Perubahan besar berikutnya datang ketika Kelompok Wanita Tani Bougenville bertemu dengan Pertamina EP Limau Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.

Bagi perusahaan energi tersebut, keberhasilan operasi migas bukan hanya soal produksi minyak dan gas.

Keberadaan perusahaan juga harus memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan atau Niat Mila, Pertamina memberikan pendampingan kepada kelompok perempuan di Patih Galung itu.

Pendampingan tersebut membuka jalan baru bagi KWT Bougenville.

Mereka mendapat pelatihan pertanian organik, bantuan sarana pertanian, hingga pembinaan pengembangan usaha.

Bagi sebagian anggota kelompok, pengalaman itu menjadi sesuatu yang benar-benar baru.

Mereka mulai belajar membuat pupuk organik. Belajar mengelola tanaman secara sehat. Belajar memahami kualitas hasil panen.

Perempuan-perempuan yang sebelumnya tidak pernah membayangkan diri mereka sebagai petani kini mulai berbicara tentang kompos, nutrisi tanah, hingga pemasaran hasil pertanian.

Perubahan itu terjadi perlahan, tetapi nyata.

Ketika Migas dan Masyarakat Tumbuh Bersama

Manager Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan perusahaan dengan lingkungan sekitar.

“Kami ingin memastikan keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui program yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Field Manager Limau Field, Abdul Rachman Para Buana, menilai keberhasilan operasi migas harus berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.

“Keberhasilan operasi migas harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pendampingan tersebut perlahan mengubah pola pikir perempuan-perempuan Bougenville.

Mereka mulai menyadari bahwa kebun kecil mereka bukan sekadar tempat menanam sayur.

Tempat itu memiliki potensi ekonomi.

Suatu siang di rumah produksi sederhana milik kelompok, aroma jahe dan serai memenuhi ruangan.

Beberapa ibu tampak sibuk memotong bahan herbal. Sebagian lain mengaduk cairan panas di atas kompor besar.

Tangan-tangan yang dulu hanya mengenal aktivitas rumah tangga kini mulai menghasilkan berbagai produk olahan.

Mereka tidak lagi sekadar menanam dan memanen.

Mereka mulai menciptakan nilai tambah.

Dari kebun Bougenville lahirlah berbagai minuman herbal dan produk kesehatan.

Ada Serjale berbahan serai, jahe, dan lemon.

Ada Kunwak yang dibuat dari kunyit dan temulawak.

Ada pula Verranas berbahan aloe vera dan nanas.

Dan masih banyak produk lainnya.

Kini sedikitnya 18 produk berhasil dihasilkan dan dipasarkan oleh kelompok tersebut.

Bagi perempuan-perempuan Bougenville, proses belajar itu tidak mudah.

Sebagian dari mereka baru pertama kali mengenal konsep pengemasan produk. Baru pertama kali memahami pemasaran. Baru pertama kali mengikuti pelatihan usaha.

Mereka belajar perlahan.

Kadang produk gagal.

Kadang rasa belum sesuai.

Kadang penjualan tidak banyak.

Namun mereka tidak menyerah.

Karena yang sedang mereka perjuangkan bukan hanya penghasilan tambahan.

Mereka sedang memperjuangkan rasa percaya diri.

“Kami merasa masih berguna,” ujar seorang anggota lansia kelompok itu.

Kalimat tersebut sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam.

Di usia yang tak lagi muda, mereka menemukan kembali semangat untuk berkarya.

Mereka merasa tetap memiliki ruang dalam kehidupan sosial.

Dan yang paling penting, mereka berhasil membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap produktif.

Kini hasil panen dan produk olahan dari KWT Bougenville mampu memberikan tambahan penghasilan kelompok hingga sekitar Rp1,5 juta setiap bulan.

Angka itu mungkin tidak besar dibanding dunia usaha pada umumnya.

Namun bagi ibu-ibu Bougenville, nilai tersebut sangat berarti.

Sebab ada rasa bangga di balik setiap rupiah yang mereka hasilkan sendiri.

Selain itu, hasil kebun juga membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga hingga sekitar Rp500 ribu setiap bulan.

Kangkung, sawi, cabai, hingga tanaman herbal yang mereka tanam membantu kebutuhan dapur keluarga sehari-hari.

Di tengah kenaikan harga bahan pokok, kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri menjadi kekuatan tersendiri.

“Saya tahu betapa berat kebutuhan dapur setiap hari,” ujar Rini. “Kalau dari kebun ini kami bisa membantu keluarga sekaligus membuat lingkungan lebih baik, itu sudah sangat membahagiakan,” tambahnya.

Namun mungkin manfaat terbesar dari kebun itu bukanlah uang.

Melainkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan dan lansia.

Selama ini, banyak orang menganggap lansia identik dengan keterbatasan.

Usia tua sering dipandang sebagai akhir dari produktivitas.

Tetapi perempuan-perempuan Bougenville membuktikan hal berbeda.

Mereka tetap mampu berkarya.

Tetap mampu belajar.

Tetap mampu menciptakan perubahan sosial.

Bahkan sebagian dari mereka mengaku kehidupan mereka kini jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya.

Dulu mereka lebih banyak menghabiskan waktu sendiri di rumah.

Kini mereka memiliki aktivitas bersama.

Mereka memiliki ruang untuk berbagi cerita, tertawa, dan saling menguatkan.

Kebun Bougenville akhirnya bukan hanya menjadi tempat bercocok tanam.

Tempat itu berubah menjadi ruang sosial bagi perempuan-perempuan lansia.

Ruang tempat mereka merasa tetap hidup.

Di tengah geliat industri migas yang identik dengan alat berat dan target produksi, kisah perempuan Bougenville menghadirkan wajah lain pembangunan energi.

Bahwa energi sejatinya bukan hanya soal minyak dan gas yang keluar dari dalam bumi.

Tetapi juga tentang bagaimana keberadaan industri mampu menghidupkan masyarakat di sekitarnya.

General Manager PHR Zona 4, Djujuwanto, mengatakan keberhasilan sektor migas tidak boleh hanya diukur dari capaian produksi.

“Keberhasilan produksi migas juga harus diiringi kemampuan perusahaan tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.

Pada tahun 2026, PHR Zona 4 menargetkan produksi minyak sebesar 30.305 barel minyak per hari (BOPD) dan produksi gas sekitar 485,07 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

PHR Regional Sumatra Zona 4 sendiri mengoperasikan tujuh wilayah kerja Pertamina EP dan Pertamina Hulu Energi yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Selatan.

Namun di balik angka produksi tersebut, ada kisah-kisah kecil tentang manusia yang tumbuh bersama denyut industri energi.

Salah satunya adalah kisah perempuan-perempuan Bougenville.

Kebun Kecil dan Harapan Besar

Pemerintah Kota Prabumulih turut memberikan apresiasi terhadap perjuangan kelompok tersebut.

Wali Kota Prabumulih, H Arlan, menyebut gerakan KWT Bougenville sebagai contoh nyata kekuatan gotong royong masyarakat.

“Kami bangga melihat semangat ibu-ibu di Patih Galung. Mereka membuktikan masyarakat bisa menjadi motor perubahan bagi lingkungannya sendiri,” katanya.

Ketua TP PKK Kota Prabumulih, Hj Linda Arlan, menilai keberhasilan kelompok tersebut menunjukkan pentingnya peran perempuan dalam membangun ketahanan keluarga.

“Mereka berhasil menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan,” ujarnya.

Apresiasi tersebut memang layak diberikan.

Sebab apa yang dilakukan perempuan-perempuan Bougenville jauh lebih besar daripada sekadar berkebun.

Mereka sedang menjaga masa depan lingkungan.

Mereka sedang membangun ketahanan sosial.

Mereka sedang menghidupkan kembali budaya gotong royong.

Dan mereka sedang mengajarkan kepada generasi muda bahwa perubahan selalu bisa dimulai dari langkah kecil.

Menjelang sore, cahaya matahari mulai meredup di atas Kebun Bougenville.

Sebagian ibu mulai membereskan alat-alat pertanian.

Ada yang memetik kangkung untuk dibawa pulang. Ada yang memeriksa tanaman herbal sebelum meninggalkan kebun.

Di sudut lain, beberapa lansia masih duduk di pondok kecil sambil bercengkerama.

Tawa mereka pecah sesekali.

Tak ada yang menyangka perempuan-perempuan sederhana itu pernah memulai semuanya dari tanah kosong penuh semak.

Kini tempat tersebut telah berubah menjadi ruang harapan.

Dan mungkin yang paling tumbuh subur di sana bukanlah kangkung, sawi, atau jahe.

Melainkan keyakinan bahwa manusia selalu punya kemampuan untuk berubah.

Bahwa perempuan-perempuan sederhana pun mampu menciptakan gerakan sosial.

Bahwa lansia bukan akhir dari produktivitas.

Dan bahwa energi terbesar dalam kehidupan bukan hanya berasal dari minyak dan gas, tetapi juga dari semangat manusia yang memilih untuk tidak menyerah.

Di kebun kecil Patih Galung itu, perempuan-perempuan Bougenville sedang membuktikannya setiap hari.

Mereka menanam benih.

Mereka menyiram harapan.

Dan dari tangan-tangan sederhana itu, kehidupan terus tumbuh. (rin)