PENDOPO, FAJARSUMSEL.COM – Pagi di Desa Pengabuan selalu datang dengan cara yang sederhana. Udara masih sejuk, embun belum sepenuhnya menguap, dan di sudut halaman sebuah rumah, Hermanila sudah memulai harinya.
Tangannya cekatan memetik jahe, kunyit, daun kelor, bunga telang, hingga rosella. Sesekali ia berhenti, mengamati daun yang dipilihnya dengan teliti. Baginya, tanaman-tanaman itu bukan sekadar penghijauan. Di situlah ia menaruh harapan—tentang kesehatan, tentang kemandirian, bahkan tentang masa depan keluarganya.
“Dulu kami cuma tanam untuk kebutuhan sendiri,” ucapnya pelan, sambil tersenyum.
Namun hidup di desa tak selalu mudah. Akses layanan kesehatan terbatas, sementara biaya berobat kerap terasa berat. Dalam kondisi itu, warga desa belajar bertahan dengan cara mereka sendiri—memanfaatkan tanaman herbal yang tumbuh di sekitar rumah.

Hermanila termasuk yang setia menjaga tradisi itu. Tapi dulu, semua dilakukan seadanya. Tidak ada pengolahan khusus, tidak ada pengetahuan tentang standar kebersihan, apalagi nilai jual.
Sampai suatu hari, perubahan itu datang.
Melalui program pemberdayaan dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4, warga Desa Pengabuan diajak melihat kebun mereka dengan cara yang berbeda. Program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA) memperkenalkan sesuatu yang baru—bahwa tanaman di halaman rumah bisa menjadi lebih dari sekadar obat tradisional.
Hermanila masih ingat betul awal-awal pelatihan. Ia belajar mengeringkan bahan herbal dengan teknik yang benar, memahami cara pengemasan yang higienis, hingga mencoba meracik produk olahan.
Awalnya tidak mudah. Ada rasa ragu, ada takut gagal. Namun perlahan, keyakinan itu tumbuh.
Kini, halaman rumahnya tak hanya hijau—tapi juga produktif. Dari kebun kecil itu, lahir berbagai produk: sirup rosella yang segar, ramuan herbal instan, hingga tisane yang mulai dikenal di luar desa.
Perubahan paling terasa bukan hanya di dapur, tapi juga di hati. “Sekarang kami lebih tenang. Kalau sakit ringan, sudah tahu harus ambil apa dari kebun,” katanya.
Lebih dari itu, ada rasa bangga yang sulit disembunyikan. Dari yang semula hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, kini hasil kebun bisa menambah penghasilan. Pendapatannya meningkat, membantu ekonomi keluarga, dan membuka peluang baru yang dulu tak pernah terbayangkan.
Di kelompoknya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam, Hermanila tak sendiri. Ada puluhan perempuan lain yang berjalan di jalur yang sama—belajar, mencoba, dan tumbuh bersama.
Mereka saling menguatkan. Dari obrolan ringan saat menjemur herbal, hingga diskusi serius tentang pemasaran produk. Kebersamaan itu menjadi kekuatan yang perlahan mengubah wajah desa.
Program PERMATA bukan hanya menghadirkan fasilitas seperti greenhouse atau rumah pengering. Lebih dari itu, program ini menanamkan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil—dari halaman rumah, dari tangan sendiri.
Kini, sekitar 60 warga telah merasakan manfaatnya. Mayoritas adalah perempuan, yang selama ini sering dianggap hanya mengurus rumah. Di Desa Pengabuan, mereka membuktikan hal sebaliknya: mereka adalah penggerak ekonomi.
Saat matahari mulai tinggi, Hermanila menata hasil panennya. Ada kepuasan sederhana di wajahnya. Ia tahu, apa yang ia lakukan hari ini bukan hanya untuk hari ini.
Dari akar-akar yang ia tanam, tumbuh sesuatu yang lebih besar—kemandirian.
Dan dari halaman rumah yang dulu biasa saja, kini berdiri sebuah “apotek hidup” yang bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga menghidupi. (ril)







