Tegap di Tengah Hujan: Kisah Dramatis Paskibraka Prabumulih 2025. Wawako : Tetap Semangat, Pantang Menyerah

PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM – Minggu sore itu, 17 Agustus 2025, langit Prabumulih tiba-tiba gelap. Awan hitam menggantung, angin bertiup, dan tak lama kemudian hujan deras mengguyur Halaman Rumdin Wako. Namun, satu prosesi penting harus tetap dilaksanakan: penurunan Sang Saka Merah Putih.

Di tengah guyuran hujan, barisan Paskibraka 2025 berdiri tegap. Seragam putih mereka cepat basah, sepatu hitam menginjak genangan air, namun langkah tetap serentak dan wajah mereka tak goyah sedikit pun. Tugas negara harus dituntaskan, meski tubuh menggigil.

Tamu undangan hadir sempat terdiam, sebagian menahan napas menyaksikan prosesi sakral itu berlangsung dalam kondisi tak biasa. Tepuk tangan pecah ketika bendera Merah Putih akhirnya diturunkan dengan sempurna. “Luar biasa, mereka tetap disiplin meski basah kuyup,” terdengar decak kagum dari kursi undangan.

Wawako Prabumulih, Franky Nasril, SKom MM, bertindak sebagai inspektur upacara, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.

“Kami sangat bangga, meskipun diguyur hujan deras, anak-anak Paskibraka tetap tegap dan menuntaskan tugas dengan penuh tanggung jawab. Ini bukti semangat juang generasi muda Prabumulih pantang menyerah,” ujarnya mata berbinar.

“Tetap semangat dan pantang menyerah,” tambahnya memotivasi.

Di barisan samping kanan, Wako H Arlan, Sekda H Elman ST MM, serta jajaran Forkopimda berdiri ikut menyaksikan momen akan dikenang lama oleh seluruh hadir.

Bagi anggota Paskibraka, sore itu bukan sekadar upacara. Salah satu anggota bahkan mengaku momen itu akan menjadi pengalaman berharga seumur hidup.

“Hujan deras memang membuat seragam kami berat, tapi kami tidak boleh lengah. Kami hanya berpikir satu: bendera Merah Putih harus diturunkan dengan sempurna,” ungkap salah satu Paskibraka dengan senyum penuh rasa bangga.

Sore itu, setelah hujan reda, cerita tentang penurunan bendera dramatis masih jadi bahan perbincangan warga. Banyak menyebutnya sebagai bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan bukan sekadar slogan, melainkan sikap teguh untuk menjaga kehormatan bangsa.

Paskibraka Prabumulih 2025 telah memberikan teladan: bahwa tugas negara harus dituntaskan, dalam kondisi apapun—bahkan di tengah hujan deras sekalipun. (rin)