MUARA ENIM, FAJARSUMSEL.COM – Di balik meja kerjanya tak pernah sepi berkas perkara, ada perjuangan sunyi tak banyak diketahui publik.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Muara Enim, DR Rudy Iskandar SH MH membuktikan bahwa menjadi abdi negara tak menghalangi semangat untuk terus belajar dan berkembang. Sabtu, 14 Juni 2025, ia resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang—sebuah pencapaian monumental di tengah tanggung jawab besar sebagai penegak hukum di daerah kaya sumber daya ini.
“Alhamdulillah, ini semua berkat doa dan dukungan keluarga serta sahabat-sahabat media di Kabupaten Muara Enim,” ucap Rudy, merendah, saat dihubungi awak media.
Namun perjalanan Rudy bukan semata soal predikat akademik. Lebih dari itu, ia sedang menulis ulang narasi tentang aparatur penegak hukum: bahwa jaksa tak hanya harus tegas dalam penegakan aturan, tapi juga tajam secara intelektual dan empati.
Menjaga Hukum, Mengejar Ilmu
Menempuh studi doktoral sambil menjalankan fungsi sebagai Kajari bukan perkara mudah. Waktu istirahat terbatas, tumpukan perkara, hingga tanggung jawab koordinasi lintas lembaga adalah keseharian Rudy. Namun ia punya prinsip: “Pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga institusi kita layani.”
Dalam disertasinya, Rudy mengangkat isu reformasi hukum pendekatan humanis—gagasan ia buktikan dalam praktik sehari-hari. Banyak perkara ia tangani dengan hati, mengedepankan keadilan substantif tanpa mengorbankan integritas hukum.
Teladan Bagi Generasi Baru Jaksa
Di lingkungan Kejaksaan Negeri Muara Enim, Rudy adalah sosok panutan. Ia kerap mendorong jajarannya untuk meningkatkan kapasitas, baik melalui pendidikan formal, pelatihan, maupun diskusi keilmuan internal. Tak jarang, ia menggelar forum diskusi kecil membahas isu-isu aktual hukum di Indonesia.
“Pak Rudy bukan hanya pimpinan, tapi mentor. Ia menginspirasi kami bahwa jaksa bisa menjadi pemikir, bukan sekadar pelaksana hukum,” ujar seorang staf Kejari enggan disebut namanya.
Apresiasi dari Rekan Media dan Masyarakat
Hubungan Rudy bersama kalangan media di Muara Enim juga patut dicontoh. Ia menjaga komunikasi terbuka dan bersikap respek terhadap jurnalis, bahkan menganggap mereka sebagai mitra dalam menjaga keadilan. Tak heran, saat kabar kelulusannya menyebar, grup WhatsApp mitra Kejari penuh dengan ucapan selamat. Ucapan selamat juga membanjiri kantor Kejari lewat baliho dan karangan bunga.
“Capaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tapi kebanggaan bersama. Semoga jadi semangat baru bagi kita semua,” tulis salah satu tokoh masyarakat dalam pesan terbuka.
Membangun Peradilan Bernurani
Kini, dengan gelar doktor resmi disandang, DR Rudy Iskandar menyadari bahwa tanggung jawabnya bertambah. Ia tak ingin berhenti di bangku akademik. Ia ingin kontribusinya menjangkau lebih luas—melalui seminar, pelatihan jaksa muda, hingga kontribusi pemikiran dalam perumusan kebijakan hukum nasional.
“Semakin tinggi gelar yang kita miliki, semakin besar pula amanah yang kita tanggung,” tutupnya.
Di tengah derasnya tuntutan zaman, Rudy membuktikan bahwa jaksa bukan sekadar penegak pasal, tapi juga penjaga nilai. Sosoknya adalah bukti nyata bahwa integritas bisa bersanding dengan intelektualitas, dan hukum bisa ditegakkan dengan hati nurani. (rin)







