Ketika Batik Boek Khaman Menemukan Emas di Sisa Warna, Ramah Lingkungan

PRODUKSI : Pengerajin tengah memproduksi Batik Boek Khaman menghasilkan limbah cair diolah menjadi cat dinding. Foto : Rian/FS.COM.

MUARA ENIM, FAJARSUMSEL.COM – Di sebuah rumah sederhana di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, aroma malam batik dan tawa para perempuan terdengar bersahut-sahutan. Di antara mereka, Etika Oktasari tampak tekun mengaduk cairan berwarna kecokelatan di ember besar.

Bukan pewarna batik, melainkan limbah batik kini justru jadi sumber penghasilan baru.

Batik produksi Boek Khaman di Desa Lubuk Raman.

“Dulu, limbah ini kami buang saja ke parit. Airnya jadi keruh, dan kami tidak tahu harus berbuat apa,” kenang Etika, Ketua Kelompok Batik Boek Khaman. “Sekarang, siapa sangka, dari limbah inilah kami bisa membuat cat tembok dan dapat tambahan penghasilan,” ceritanya, Kamis, 23 Oktober 2025.

Kisah perubahan itu bermula ketika PT Pertamina EP (PEP) Limau Field datang ke desa ini membawa sebuah ide sederhana tetapi berdampak besar, mengubah limbah batik menjadi berkah ekonomi, tanpa meninggalkan prinsip ramah lingkungan.

Melalui program pengelolaan limbah batik berbasis masyarakat, PEP Limau Field menggandeng tim akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri) melatih para perajin dalam mengolah limbah cair batik menjadi air baku dan cat tembok alami.

“Selama ini limbah batik belum dikelola secara optimal,” tutur Dr Martha Aznury MSi, dosen Unsri turut membimbing program ini.

“Teknologi sederhana berbasis koagulasi, flokulasi, dan sistem aerasi, limbah cair dulunya mencemari lingkungan kini bisa dimanfaatkan kembali, bahkan menghasilkan produk bernilai jual,” tambahnya.

Pengolahan limbah hasil Batik Boek Khaman di Desa Lubuk Raman dibina PEP Limau Field.

Di halaman belakang Rumah Kreatif Boek Khaman, kini berdiri Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) mini dirancang untuk kebutuhan skala desa. Air hasil olahan dari IPAL itu dapat dipakai kembali sebagai air baku, sementara sisa padatannya diolah menjadi cat tembok alami dengan warna-warna lembut khas bumi: krem, oker, dan cokelat muda.

“Waktu pertama kali kami coba, tak percaya hasilnya bisa sebagus itu. Cat-nya menempel kuat, warnanya lembut, dan harganya bersaing,” ujar Etika sambil tersenyum bangga.

Kini, selain memproduksi kain batik, kelompoknya juga menjual cat tembok alami itu ke warga sekitar sebagian bahkan digunakan untuk mengecat dinding rumah kreatif mereka sendiri.

Program ini tak hanya berhenti di pelatihan. PEP Limau Field juga membangun Rumah Kreatif Boek Khaman, sebuah bangunan sederhana tapi penuh semangat pembelajaran. Di tempat inilah para perempuan desa berkumpul setiap sore, membatik, bereksperimen, dan berdiskusi tentang bagaimana produk mereka bisa terus berkembang.

“Rumah kreatif ini jadi tempat kami belajar dan berkreasi. Dulu kami hanya tahu cara membatik, sekarang kami belajar mengelola limbah, bahkan memasarkan produk,” ujar Etika.

Rumah produksi Batik Boek Khaman di Desa Lubuk Raman.

Anak-anak pun sering terlihat bermain di sekitar rumah kreatif. Mereka tak lagi khawatir air parit menjadi hitam karena limbah batik karena kini, air itu sudah melewati pengolahan sebelum kembali ke alam.

Bagi PEP Limau Field, program ini bukan sekadar kewajiban perusahaan terhadap lingkungan. Ini adalah wujud nyata filosofi beyond compliance, bekerja melampaui regulasi, dengan kesadaran sosial dan empati terhadap masyarakat sekitar.

“Program ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan seiring peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1.

“Melalui kolaborasi lintas sektor, kami ingin kehadiran perusahaan benar-benar memberi manfaat jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun sosial,” akunya.

Kini, Desa Lubuk Raman mulai dikenal bukan hanya sebagai sentra batik, tapi juga sebagai desa inovasi pengelolaan limbah berbasis masyarakat.

Sore itu, Etika menatap dinding rumah kreatif baru dicat dengan hasil olahan limbah mereka sendiri. Warna kremnya lembut memantulkan cahaya matahari mulai redup.

“Rasanya bahagia melihat limbah dulu kami anggap masalah, kini justru jadi solusi,” katanya pelan.

Di tangan perempuan-perempuan Boek Khaman, sisa warna tak lagi berarti kotoran tapi simbol perubahan. Perubahan yang lahir dari ilmu, kemitraan, dan keberanian mencoba hal baru.

Sebuah bukti bahwa ketika masyarakat diberdayakan dan lingkungan dijaga, limbah pun bisa jadi sumber cuan dan kebanggaan. (rin)

error: Content is protected !!