Dari Tumpukan Sampah ke Harapan Baru
Pagi itu, di sebuah lahan sederhana di Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Prabumulih Timur, puluhan petani berkumpul dengan raut wajah penuh antusias. Di hadapan mereka, sebuah alat berbentuk silinder besar dari besi tampak berkilau terkena cahaya matahari. Bukan sembarang mesin, inilah alat pirolisis berkapasitas 100 kilogram teknologi yang menjadi pintu masuk bagi petani untuk mengubah sampah organik yang kerap dianggap masalah menjadi asap cair Mokusaku: produk ramah lingkungan dengan segudang manfaat.
Suasana pelatihan yang digelar oleh PT Pertamina EP (PEP) Prabumulih Field terasa berbeda dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar sosialisasi atau bantuan alat pertanian biasa. Apa yang dibawa Pertamina lebih dari itu: sebuah inovasi yang menggabungkan kepedulian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan kemandirian ekonomi.

Di tengah gempuran isu lingkungan, naiknya harga pupuk kimia, serta turunnya harga karet, kehadiran program Padu Padan (Pengolahan Sampah Mandiri dan Berkelanjutan), khususnya sub-program Mokusaku (Modal Kayu Sampah Berkurang), seolah menjadi jawaban konkret.
Latar Belakang: Sampah, Petani, dan Pertanian yang Terdesak
Prabumulih dikenal luas sebagai Kota Migas. Namun, di balik gemerlap industri energi, kota ini juga memiliki denyut nadi lain: pertanian dan perkebunan rakyat. Ribuan hektar lahan ditanami karet, padi, jagung, dan tanaman lainnya. Di desa-desa sekitar, mayoritas masyarakat masih bergantung pada hasil bumi untuk menyambung hidup.
Masalahnya, petani kerap menghadapi dua tantangan besar:
- Sampah organik – terutama dari kebun dan rumah tangga, biasanya hanya dibakar begitu saja. Praktik ini menimbulkan polusi udara, merusak kesuburan tanah, dan membuang potensi ekonomi.
- Biaya pertanian yang tinggi – harga pupuk kimia mahal, hama tanaman makin bandel, sementara harga hasil panen tak selalu stabil.
- Di sisi lain, limbah organik yang melimpah, seperti daun kering, ranting, dan potongan kayu, sebenarnya bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Namun, tanpa teknologi tepat guna, limbah itu tetap tak bernilai.
Inilah yang kemudian dilihat oleh Pertamina EP Prabumulih Field sebagai peluang. Mengubah sampah organik menjadi sumber daya baru.
Program Padu Padan: Cikal Bakal Inovasi Hijau
Sejak tahun 2022, PEP Prabumulih Field meluncurkan Program Padu Padan, sebuah inisiatif CSR (Corporate Social Responsibility) di bidang lingkungan. Tujuannya sederhana namun mendalam: membantu masyarakat mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam perjalanannya, program ini tidak berhenti pada pengelolaan sampah anorganik seperti plastik atau logam. Tahun 2024, lahirlah sub-program Mokusaku, yang secara khusus fokus pada pengolahan sampah organik melalui teknologi pirolisis.
Nama Mokusaku sendiri terinspirasi dari bahasa Jepang, yang berarti “cairan dari kayu.”Di Jepang, teknologi ini sudah lama digunakan untuk menghasilkan asap cair dari kayu yang difermentasi. Pertamina mengadaptasi konsep tersebut, memodifikasinya agar sesuai dengan kebutuhan lokal, dan menjadikannya bagian dari solusi bagi petani Prabumulih.
Bagaimana Alat Pirolisis Bekerja?
Alat pirolisis yang diserahkan kepada kelompok tani di Karang Jaya memiliki kapasitas 100 kilogram per sekali proses. Cara kerjanya cukup sederhana:
1. Bahan organik berupa kayu, daun kering, ranting, atau limbah kebun lainnya dimasukkan ke dalam tabung pirolisis.
2. Alat dipanaskan dalam kondisi terbatas udara. Artinya, bahan tidak dibakar langsung, sehingga tidak menghasilkan api besar maupun asap pekat.
3. Dari proses itu, keluar asap cair Mokusaku yang ditampung melalui sistem kondensasi.
Asap cair inilah yang kemudian bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan:
- Sebagai pupuk organik cair untuk menyuburkan tanah.
- Sebagai pestisida alami, karena kandungan fenol dan asam organiknya mampu mengusir hama tanpa bahan kimia berbahaya.
- Untuk pengolahan getah karet, menggantikan bahan kimia yang lebih mahal.
Dengan kata lain, alat ini mengubah limbah menjadi solusi pertanian.
Suara Pertamina: Lingkungan dan Masyarakat Jadi Prioritas
Senior Manager PEP Prabumulih Field, Muhammad Luthfi Ferdiansyah, menegaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Program Padu Padan sudah berjalan sejak 2022, dan hasilnya nyata. Tahun 2024, kami meluncurkan sub-program Mokusaku dengan inovasi alat pirolisis. Harapan kami, kelompok petani bisa lebih mandiri dalam mengelola limbah, sekaligus meningkatkan hasil pertanian mereka. Jadi, bukan hanya lingkungan yang terjaga, tapi kesejahteraan masyarakat juga meningkat,” ujar Luthfi.
Menurutnya, CSR Pertamina bukan sekadar bagi-bagi bantuan, melainkan menghadirkan inovasi yang bisa ditularkan dan berkelanjutan.
Petani Menyambut: Dari Skeptis Jadi Optimis
Bagi kelompok tani Karang Jaya, kehadiran Mokusaku awalnya terdengar asing. Bagaimana mungkin sampah kayu dan daun bisa berubah menjadi cairan bermanfaat? Namun, setelah melihat demonstrasi alat pirolisis, keraguan itu berubah menjadi harapan.
“Dulu, kalau habis bersih-bersih kebun, daun dan ranting kering kami bakar saja. Sekarang malah bisa diolah jadi asap cair. Katanya bisa buat pupuk dan mengusir hama. Kalau benar berhasil, ini bisa mengurangi biaya pupuk kimia,” ungkap Samsul, salah satu anggota kelompok tani.
Bagi mereka, asap cair bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal penghematan biaya dan tambahan pendapatan.
Penyuluh Pertanian: Solusi Nyata
Koordinator Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kota Prabumulih, Zainul, memberikan apresiasi besar atas inovasi ini.
“Inovasi Mokusaku ini bukan hanya menjaga lingkungan, tapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi petani. Mereka tidak lagi sekadar membakar sampah, tapi bisa mengolahnya menjadi produk bermanfaat,” jelas Zainul.

Ia berharap program ini diperluas ke desa-desa lain di Prabumulih, bahkan bisa menjadi model nasional.
Manfaat Lingkungan dan Pertanian
Asap cair Mokusaku memiliki banyak manfaat yang sudah dibuktikan di berbagai negara:
1. Pertanian – meningkatkan kesuburan tanah, menekan serangan hama, mempercepat pertumbuhan tanaman.
2. Perkebunan karet – meningkatkan kualitas lateks dengan cara ramah lingkungan.
3. Lingkungan – mengurangi polusi udara akibat pembakaran sampah terbuka.
4. Ekonomi – mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia yang harganya mahal.
Dengan potensi ini, Prabumulih berpeluang menjadi kota percontohan pengelolaan sampah organik berbasis teknologi pirolisis.
Dampak Ekonomi: Dari Pengeluaran ke Penghasilan
Sebelum mengenal Mokusaku, petani biasanya menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk membeli pupuk kimia setiap musim tanam. Dengan adanya asap cair, biaya itu bisa ditekan. Bahkan, jika produksi melimpah, asap cair dapat dikemas dan dijual ke petani lain.
Kalkulasi sederhana:
- 100 kg bahan organik → menghasilkan 15–20 liter asap cair.
- Harga pasar asap cair organik: Rp15.000–20.000 per liter.
- Artinya, sekali proses bisa menghasilkan Rp300.000.
Bagi kelompok tani, ini bukan sekadar penghematan, tapi juga sumber pendapatan baru.
Sinergi Multi Pihak
Program ini tidak berjalan sendirian. Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah setempat, penyuluh pertanian, hingga aparat keamanan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan dan memberdayakan masyarakat memang harus dilakukan bersama-sama.
Visi Jangka Panjang
Ke depan, PEP Prabumulih Field berharap Mokusaku bisa menjadi program berkelanjutan yang diadopsi lebih luas. Bukan tidak mungkin, asap cair dari Prabumulih bisa menjadi komoditas unggulan baru yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan) serta poin 15 (ekosistem daratan).
“Inovasi ini adalah langkah kecil, tapi dampaknya bisa besar. Dari sampah yang tak bernilai, kita bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” tutur Luthfi menutup sesi pelatihan.
Dari Sampah Jadi Berkah
Di ujung acara, beberapa petani masih terlihat memandangi alat pirolisis dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka kini sadar bahwa tumpukan sampah organik yang selama ini dianggap beban, justru bisa menjadi sumber kehidupan baru.
Bagi mereka, asap cair Mokusaku bukan sekadar produk, melainkan simbol harapan. Harapan akan pertanian yang lebih sehat, lingkungan yang lebih lestari, dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Dari Prabumulih, sebuah revolusi kecil sedang dimulai—revolusi hijau berbasis limbah. (rin)







