Bioplastik dari Kampung Bali, Solusi Pengelolaan Lingkungan Hijau Hasilkan Cuan

LIMBAH : KWT Amerta, Desa Air Talas mengolah limbah jeruk menjadi bioplastik. Foto : Rian/FS.COM.

MUARA ENIM, FAJARSUMSEL.COM – Desa Air Talas di Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, dikenal sebagai kawasan Agrowisata Petik Jeruk. Desa yang mayoritas dihuni warga transmigran asal Bali ini telah lama sukses membudidayakan jeruk di lahan subur mereka. Dalam setahun, hasil panen jeruk bahkan bisa mencapai tiga kali.

Selain dijual sebagai buah segar, warga juga mengolah jeruk terutama jenis jeruk asam menjadi berbagai produk turunan seperti sirup, pie, stik, dan olahan lainnya. Namun, limbah kulit jeruk yang dulunya terbuang, kini justru menjadi sumber ekonomi baru berkat inovasi para ibu-ibu desa.

Jerus manis, hasil produksi kebun warga di Desa Air Talas.

Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Bude Arta, mitra binaan PT Pertamina EP (PEP) Limau Field, program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk GEMA DEWATA (Gerakan Ekonomi Masyarakat Desa Wujudkan Air Talas Mandiri) yang berjalan sejak 2022 berhasil mendorong pengelolaan limbah jeruk menjadi produk bernilai tambah. Program ini tidak hanya memperkuat kesadaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Bioplastik, hasil pengolahan limbah jeruk dilakukan KWT Amerta Desa Air Talas.

Memasuki tahun 2024, inovasi itu berkembang pesat. Kini, melalui KWT Amerta, limbah kulit jeruk diolah menjadi bioplastik ramah lingkungan. Produk ini menjadi solusi nyata pengurangan sampah plastik sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.

“Dulu kulit jeruk hanya kami buang, sekarang bisa diolah jadi bioplastik yang punya nilai jual. Selain membantu lingkungan, hasilnya juga menambah penghasilan keluarga,” ujar Yuni, anggota KWT Amerta.

Dengan dukungan PEP Limau Field, Desa Air Talas perlahan menjadi contoh ekonomi sirkular di tingkat desa, bagaimana limbah bisa disulap menjadi berkah, dan lingkungan tetap lestari.

Mesin Herb Gerinder, mengolah limbah kulit jeruk dikeringkan.

Hal ini tidak terlepas dari perhatian perusahaan terhadap pelestarian lingkungan. Melalui program pendampingan, PEP Limau Field membantu masyarakat memanfaatkan limbah kulit jeruk agar dapat diolah menjadi bioplastik bernilai ekonomi.

“Selain mampu mengurangi limbah, juga bisa menghasilkan cuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Air Talas,” terang salah satu pendamping program.

Proses pembuatannya cukup sederhana. Kulit jeruk hasil olahan KWT Bude Arta dikeringkan selama 2–3 hari hingga kadar airnya hilang, kemudian digiling menggunakan alat Herb Grinder. Dari 60 kilogram kulit jeruk kering, dihasilkan serbuk bioplastik yang kemudian diolah menjadi kantong bioplastik.

Tak hanya itu, warga juga memproduksi sabun mandi beraroma terapi berbahan dasar kulit jeruk. Produk ini dikemas menarik dan disukai konsumen karena wanginya yang segar.

KWT Amerta, pengolah limbah jeruk menjadi bioplastik.

Untuk pemasaran, kantong bioplastik bekerja sama dengan RS Pertamina Prabumulih, sementara sabun mandi dipasarkan di sekitar Desa Air Talas serta melalui platform e-commerce seperti Shopee dan lainnya.

Community Development Officer (CDO) PEP Limau Field, Chaterine, yang diwakili Rama Sanjaya, menjelaskan bahwa program CSR GEMA DEWATA merupakan bagian dari pembinaan masyarakat di wilayah ring 1 perusahaan.

“Ada tiga kelompok yang dibina di Desa Air Talas, yakni Poktan Tunas Hijau yang fokus pada pertanian organik, KWT Bude Arta yang mengolah jeruk asam, dan KWT Amerta yang mengelola limbah kulit jeruk. Selama tiga tahun, program ini telah berdampak positif bagi kemajuan warga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rama Sanjaya menambahkan, sebelum menjalankan program pemberdayaan masyarakat di Desa Air Talas, pihaknya terlebih dahulu melakukan social mapping untuk memetakan potensi dan permasalahan yang ada di masyarakat.

Kades Air Talas, I Gede Arsana.

“Setelah kami melakukan pendataan, barulah dijalankan program CSR GEMA DEWATA yang memanfaatkan potensi buah jeruk sebagai produk unggulan desa. Melalui pembinaan, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan, masyarakat akhirnya mampu berinovasi hingga sejauh ini. Program ini terbukti memberikan dampak positif bagi warga Desa Air Talas,” jelasnya.

Ia menambahkan, program ini juga upaya PEP Limau Field mengejar proper emas, saat ini baru berstatus hijau dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). “Semoga saja, proper emas ini bisa diraih dalam bentuk kolaborasi program pemberdayaan lingkungan di Desa Air Talas i ini lewat program GEMA DEWATA,” benernya.

Kepala Desa Air Talas, I Gede Arsana, menyampaikan apresiasi atas perhatian besar PEP Limau Field terhadap pemberdayaan masyarakat dan pengembangan produk turunan jeruk.

“Sekarang Desa Air Talas makin dikenal sebagai Desa Agrowisata Petik Buah Jeruk. Banyak produk turunannya yang dihasilkan seperti pie, sirup, stik, dan lainnya. Harapan kami, program ini terus berkelanjutan untuk mengembangkan potensi jeruk di desa kami,” tuturnya.

Sementara itu, Khairil, Pembina Program Poktan Tunas Hijau, menjelaskan bahwa luas kebun jeruk di Desa Air Talas mencapai 87 hektare dengan 44.375 tanaman. Panen dilakukan tiga kali dalam setahun, dengan satu kali panen raya yang bisa menghasilkan sekitar 1.300 ton jeruk.

Dari jumlah tersebut, sekitar 20–30 persen jeruk asam dikelola oleh KWT Bude Arta menjadi berbagai produk olahan. Sementara sekitar 2 persen limbah kulit jeruk dimanfaatkan oleh KWT Amerta menjadi bioplastik.

“Semua saling berkait, dari pengolahan jeruk, limbah kulitnya diolah menjadi bioplastik, dan sisanya dimanfaatkan Poktan Tunas Hijau menjadi pupuk organik. Dampaknya sangat positif bagi masyarakat,” jelasnya.

Dengan kolaborasi yang solid antara masyarakat, pemerintah desa, dan PEP Limau Field, Desa Air Talas kini menjadi simbol keberhasilan pengelolaan lingkungan berbasis ekonomi sirkular di mana setiap bagian dari jeruk, dari buah hingga kulitnya, menjadi sumber keberkahan dan kesejahteraan. (rin)

error: Content is protected !!