Angka Stunting Prabumulih 9,7 Persen, Tersisa 41 Kasus – Pemkot Terus Komitmen Intervensi dan Cegah

PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kota Prabumulih menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Penurunan Stunting di Ballroom Favehotel Prabumulih, Rabu, 6 Agustus 2026.

Mengusung tema ‘Saatnya Bersatu Cegah Generasi Gagal Tumbuh’, kegiatan ini dibuka Sekda Kota Prabumulih, H Elman ST MM. Turut hadir Kepala BKKBN Perwakilan Sumsel, dr Arios Saplis, sejumlah kepala OPD, camat, lurah/kades, serta para peserta rakor.

Sekda: Bagian dari Program Asta Cita

Sekda Prabumulih, H Elman ST MM, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan program Asta Cita Presiden Prabowo – Gibran, khususnya dalam menekan dan mengantisipasi stunting di Kota Prabumulih.

“Harapannya, stunting terus bisa diturunkan dan ditekan di Prabumulih, bahkan hingga tercapai zero stunting di Bumi Seinggok Sepemuyian ini,” ujarnya.

Elman juga menekankan pentingnya peranan puskesmas bersama camat hingga tingkat kelurahan dan desa untuk aktif memantau kondisi anak-anak yang berisiko stunting. “Khususnya bagi ibu hamil dan balita. Jika ditemukan kasus stunting, segera laporkan agar bisa cepat tertangani,” tegasnya.

Lebih lanjut, Elman menuturkan bahwa dirinya pernah mendapatkan penghargaan atas keberhasilan menekan angka stunting di Prabumulih. “Penghargaan itu menjadi motivasi agar kita terus bekerja keras mencapai target zero stunting,” ucapnya.

Menurutnya, mewujudkan zero stunting membutuhkan dukungan semua pihak. “Penurunan dan pencegahan stunting hanya bisa diwujudkan jika seluruh stakeholder bergerak bersama,” pungkasnya.

Gerakan Orang Tua Asuh

Dalam pemaparannya, Kepala BKKBN Perwakilan Sumsel, dr Arios Saplis, menegaskan pentingnya pencegahan stunting melalui gerakan orang tua asuh.

“Stunting tidak hanya diintervensi, tetapi juga harus dicegah. Orang tua dan orang tua asuh memiliki peran penting. Siapa saja bisa menjadi orang tua asuh, melalui pemberian nutrisi dan non nutrisi kepada anak terduga stunting,” ujarnya.

Menurutnya, status stunting masih dapat diintervensi dalam rentang waktu 3 bulan hingga 1 tahun. “Selain itu, sekitar 25 persen anak Indonesia tidak memiliki figur ayah. Karena itu, penguatan peran ayah sangat penting agar tidak menimbulkan masalah emosional dan perkembangan anak,” jelasnya. Arios juga menyebut adanya program Tamansya Anak serta berbagai program pendukung lainnya.

Angka Stunting Prabumulih

Sementara itu, Kepala DPPKBPPPA Prabumulih, Eti Agustina SKM MKes, menegaskan bahwa angka stunting di Prabumulih saat ini berada di kisaran 9,7 persen dengan 41 kasus masih ditangani.

“Angka ini memang jauh di bawah rata-rata nasional. Namun, Pemkot Prabumulih tidak berpuas diri. Intervensi akan terus dilakukan hingga kasus stunting benar-benar ditekan,” ungkapnya.

Eti menambahkan bahwa komitmen pimpinan daerah menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program penurunan stunting. “Saat ini, baru 60 persen masyarakat memahami persoalan stunting. Edukasi dan perbaikan program akan terus dilakukan,” bebernya.

“Kegiatan ini merupakan bukti komitmen Pemkot Prabumulih dalam percepatan penanganan dan pencegahan stunting,” pungkasnya. (rin)